Selasa, 20 Desember 2011

Buah “Brayo” Buah Langka Yang Tetap Di Cari


Buah Brayo dari pohon Api-api

Jepara -  Buah dari pohon api-api yang dikenal sebagai buah “Brayo”  sejak dulu telah dicari orang dan diperjualbelikan sebagai makanan. Meski belum ada yang tahu khasiatnya namun buah kecil-kecil dari tanaman yang tumbuh sipinggir laut ini mempunyai penggemar tersendiri. Setelah direbus tiga jam dan diganti airnya berkali-kali buah brayo ini bisa dimakan sebagai cemilan tambahan dengan diberikan parutan kelapa. Rasanya yang sedikit manis dan agak pahit ini mempunyai kekhasan tersendiri bagi penggemarnya , selain itu buah yang berkulit tipis ini jika direbus akan menjadi empuk dan membuat sensasi lidah tersendiri. Oleh karena itu jika sudah merasakan nikmatnya buah brayo ini kebanyakan mereka akan membeli lagi .

“  Saya berdagang buah brayo ini sudah 15 tahun lebih , dari pencari masih mentah seperti ini . Sampai rumah nanti kita bersihkan lalu direbus dan hilangkan kulitnya . Setelah itu baru kita jual dalam bentuk sudah matang dan siap makan “ , tutur Mbah Maniah (56) warga desa Sowan Lor pada wartawan yang menemuinya Senin (19/12) di pinggir jalan desa Kedungmalang tempat berkumpulnya para pengepul buah Brayo.

Menurut Mbah Maniah usaha jual beli buah brayo ini cukup menguntungkan , dari para pencari buah Brayo ini dia membeli dengan sisten takaran. Satu dunak besar ia beli Rp 25 ribu – 35 ribu , setekah terkumpul ia masukkan dalam zak-zak plastic untuk diangkut ke rumahnya . Jika kondisi sedang musimnya setisap hari ia bisa membawa pulang 5 – 8 zak besar , namun jika kondisi sedang sepi 4 zak bisa ia bawa pulang. Sampai dirumah tetangganya sudah menunggu untuk membeli buah brayo mentah ini untuk diolah menjadi brayo matang siap jual. Diapun menyisihkan 1-2 zak saja untuk diolah dan dipasarkan dalam kondisi matang , sisanya di”bangkelkan “ pada tetangga atau bakul langganannya.

Ibu Maniah si pedagang Buah Brayo

“ Ya kalau dihitung untungnya ya lumayan, meski sedikit tapi kita bisa bagi-bagi rezeki dengan tetangganya . Oleh karena itu jika pas musim buah brayo datang saya pasti ke sini untuk mengumpulkan buah brayo dari para pengepul disini “, tambah Mbah Maniah.

Sementara itu Miftah (37) warga desa Kedungmalang dan istrinya sudah tiga tahun menekuni usaha jual beli buah brayo ini . Dengan berbekal zak plastic dan sedikit uang ia mangkal di pinggir jalan desa Kedungmalang Timur yang menjadi “pasar krempyeng” tempat bertemunya para pencari buah brayo dan para pengepul. Dengan sabar ia menunggu datangnya para pencari buah brayo yang menjadi langganannya setiap hari . Setelah yang ditunggu datang iapu kemudian menakar brayo perolehan pelanggannya itu denga memasukkannya ke dalam “Dunak” ( bakul besar) sampai penuh , selanjutnya ia masukkan brayo ke dalam zak-zak yang ia bawa lalu ia ikat kuat-kuat. Satu zak penuh ia lanjutkan masukkan zak lainnya , sambil di bantu dengan istrinya.

“ Satu zak ini kurang lebih 4 – 5 dunak , hari ini harga perdunak Rp 30 ribu , lumayan hari ini saya dapat tiga zak . Setelah ini lalu kita pasarkan lagi   untuk diolah menjadi buah brayo matang . Saya hanya menjual buah brayo dalam kondisi mentah seperti ini “, ujar Miftah sambil memasukkan buah brayo ke dalam zak.

Di tempat yang sama Siti Muzaro’ah (55) pencari buah brayo dari desa Kedungkarang pada wartawan mengatakan , dalam satu harinya dalam kondisi buah brayo sedang musim ia bisa mendapatkan 2- 2,5 dunak. Dari rumah ia berangkat jam 8 pagi dan pulangnya menjelang shalat ashar atau sebelumya ketika sudah mendapatkan buah brayo yang banyak. Buah brayo ini ia dapatkan dari pohon yang tumbuh di tambak, pinggir sungai dan juga tepi pantai . Meski harus kehujanan dan kepanasan profesi mencari brayo ini ia lakukan sudah puluhan tahun dan hasilnya bisa membantu suaminya menambah penghasilan keluarga.

Miftah dan istrinya

“ Ya kalau dilihat berat ya berat karena harus kepanasan dan kehujanan , namun jika dilihat hasilnya yang lumayan ya jadi ringan apalagi setelah mendapatkan ini “, kata Ibu Muzaro’ah sambil menunjukkan uang hasil perolehan penjualan brayonya hari itu.

Selain ibu Muzaro’ah masih ada puluhan lain ibu-ibu yang berprofesi sebagai pencari buah brayo . Setiap hari dari tangan-tangan ibu-ibu bisa diperoleh penghasilan Rp 40 ribu – 75 ribu rupiah . Meski harus berangkat pagi dan pulangnya sore menjelang , namun mereka tampak bersemangat karena hasil dari mencari buah brayo ini cukup menjanjikan. (Fatkhul Muin)







Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

"BLOGNYA MASYARAKAT PESISIR DEMAK DAN JEPARA "
Bagi pembaca yang ingin berbagi informasi dapat mengirim tulisan apa saja artikel, Berita, Foto dan apa saja yang bermanfaat ke Email : pakardans[at]gmail.com, Dan jika anda mempunyai informasi yang perlu diliput dapat menghubungi Redaksi Phone:
085641629350.-
Bagi anda yang mempunyai usaha apa saja yang ingin dipublikasan via media internet dan menghubungi Redaksi
Bila anda peduli dengan kemajuan blog ini dapat berbagi dengan kami
Donasi bisa dikirimkan via pengelola blog :
Nama : FATKUL MUIN
Bank : BRI UNIT PECANGAAN KULON JEPARA
NO REK : 5895-01-000092-53-8
" Marilah Kita Bersama Berdayakan Masyarakat Pesisir"